Sabtu, 20 Mei 2017

Langit Merah

Jeritan itu tidak lagi tersimpan di dalam hati. Kini ia menembus raga-raga manusia. Teriakan penindasan. Desa-desa sudah tidak aman lagi. Kaum minoritas dizalimi. Aroma petrichor bercampur bau darah segar yang mengalir dari tubuh-tubuh yang tidak berdaya, menguap ke langit senja yang memerah. Satu per satu dari mereka dibantai tanpa perlawanan yang berarti.


Setelah berbulan-bulan menyisiri desa, kini tinggal seorang yang bertahan. Ia tidak bisa mati. Ilmu kebal sudah dilahapnya. Tak ada sesiapapun yang mampu membunuhnya.

"Menyerahlah, Kanda. Saya sudah tidak sanggup menderita lebih lama lagi." Isak tangis terselip di sela-sela suara seorang wanita.

Kakak dari wanita itu, yang merupakan seorang petinggi dari kaum minoritas, terluka hatinya melihat penderitaan yang ditanggung oleh keluarganya. Jika bukan karena mereka, ia tak mungkin mau melepaskan ilmunya.

Sambil berjalan dengan hati yang terus-menerus menjerit melihat hancurnya kehidupan di sekitar, petinggi itu menyerahkan dirinya ke hadapan pemimpin pasukan pembantai, "Ambillah kepalaku. Tapi kumohon, bebaskan yang lainnya. Biarkan mereka hidup."

Parang diasah. Kaki dan tangan sang petinggi diikat lalu kepalanya dihadapkan ke bawah. Dengan disaksikan oleh pasukan penyerang dan sebagian masyarakat desa yang tersisa, seorang algojo mengayukan parangnya.

"Aargh!"

Teriakan histeris terdengar serentak dari bibir sang algojo, pemimpin kaum minoritas, dan masyarakat yang menyaksikan. Terdengar mirip namun maknanya berbeda-beda.

Bagi algojo, dengan amarah yang membara, "Matilah kau!"
Bagi masyarakat, sambil menutup mata, "Ini terlalu kejam!"
Bagi sang petinggi, dalam detik-detik terakhirnya, "Selamat tinggal!"

Sesaat kemudian, kepala dan badan petinggi itu pun terpisah. Rambutnya ditarik hingga kepalanya terangkat dan meneteskan darah. Kepala itu diarak keliling desa untuk menakut-nakuti warga yang tidak ikut menyaksikan peristiwa ditebasnya pemimpin mereka kala itu.
"Seandainya mereka datang dengan baik-baik, mungkin kami akan mendengarkannya. Dan mungkin saja peristiwa buruk seperti ini tidak perlu terjadi," sesal sang adik yang sedang mencatat sejarah kelam dalam ingatannya.[AyP]

(Terinspirasi dari kisah nyata)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar